LARI DENGAN WAYPOINT

Spread the love

Sobat runner tahu waypoint itu apa?

Saya nggak tahu terjemahannya dalam bahasa Indonesia, tapi yang jelas waypoint adalah titik-titik yang dilewati sepanjang rute perjalanan. Kalau paham navigasi pasti tahulah ini.

Rute perjalanan dengan tiga waypoint A, B, dan C
Rute perjalanan dengan waypoint A, B, dan C

Nah, apa hubungannya si waypoint ini sama lari?

Jadi begini…

Lari itu sangat menantang

Lari , apalagi lari yang jaraknya cukup jauh itu sangat menantang secara fisik, apalagi secara mental. Btw jauh dekat itu relatif sih ya, tapi anggap 5km keatas deh ya. Atau 1km keatas? Pakai standard masing-masing deh yah.

Dalam banyak kasus fisik kita tuh sebetulnya lebih kuat, cuma mentalnya yang lebih sering bermasalah. Perang pikiran di kepala itu lho dahsyat buangets.

Dari ekspresinya Homer terbaca lari itu seperti apa rasanya
Dari ekpresinya Homer sudah kelihatan yah

Sering yah, kalau kita lari waktu badan mulai atau memang sudah capek, kaki berat, napas berat. Nah si pikiran tuh dominan banget, udah deh, udah deh, stop dulu. Kita lawan habis-habisan, mantra kita rapalkan, kuat kuat kuat. Seru lah pokoknya perang pikiran ini.

Memang seringnya sih fisik sebetulnya masih kuat kalau mau dipaksa, tapi tetap saja pikiran ingin stop ini lebih kuat. Ini konon katanya sih ada mekanisme pertahanan alami dalam rangka menjaga keselamatan diri kita, atau ada yang bilangnya dalam diri kita memang ada sesuatu yang selalu cari aman dan nyaman.

Makin jauh larinya, makin kuat pikiran ini berontak. Aduh, masih jauh, aduh setengahnya aja belom, aduh capek, panas, aduh ini aduh itu dan sebagainya. Kalau kita lawan malah makin parah biasanya, makin kuat lagi pemberontakannya. Akhirnya, menyerah jugalah kita. 😀

Kita akali dia

Daripada capek-capek melawan pikiran ini, ada sedikit trik yang bisa dipakai buat mengakalinya. Saya sudah bilang kan, ada sesuatu dalam diri kita yang sukanya itu memang cari aman dan nyaman, nggak mau susah nggak mau capek. Bisa saja sih dilawan, tapi berat, capek juga butuh energi banyak, jadi mendingan kita ikuti saja apa maunya.

Ini sama dengan prinsip puasa di agama Islam. Kita bukan menahan nafsu lho ya, tapi “mengendalikan”. Kalau menahan, lama-lama kita jebol, tapi kalau mengendalikan kita bisa mengarahkan dia sesuai kemauan kita.

Nah si pikiran pemberontak ini sama saja nafsu, maka kita akan kendalikan dia waktu kita lari.

Nafsu ini, eh ngeres orientasinya yah, kita sebut saja si “dia” deh yah. Si dia ini senangnya yang enak-enak, nyaman, aman, gampang, dan sebagainya. Sementara lari, sudah jelas susah! Capek, berat, dan sebagainya.

Caranya

Cara mengakalinya, kita buat lari ini seolah-olah gampang. Caranya kita set target sedikit-sedikit saja deh biar kerasa gampang, kita bagi lari kita jadi waypoint kecil-kecil.

Nggak usah jauh hitungan sekian kilometer, beberapa meter saja bisa kok. Cari saja titik-titik atau tempat atau apalah sepanjang rute lari kita yang bisa kita jadikan target, yang dekat-dekat saja. Jadi rute larinya kita bagi menjadi titik-titik waypoint yang jaraknya dekat, jadi kita lari dengan fokus ke target kecil-kecil.

Coba deh sekarang kalau lagi lari, lihat ke depan apa ada sesuatu yang menarik. Poster caleg, tiang listrik, atau apalah yang nggak terlalu jauh. Nah jadikan itu target kita, lalu kita lari dengan mata dan pikiran fokus saja kesitu. Fokus kesitu terus ya, jangan kemana-mana lagi. Pokoknya kasih tahu badan kita, pikiran kita bahwa tujuan kita larinya adalah kesitu.

Begitu sampai di titik tujuan, lihat lagi ke depan ada apa lagi. Alfamart, mobil parkir, selokan, pohon, apa sajalah. Lari lagi kesitu dengan mata dan pikiran terfokus hanya kesitu saja. Sampai disitu, cari lagi titik berikutnya. Begitu terus sampai kita tiba di akhir rute.

Nah dengan cara begini kita seolah-olah menargetkan lari kita ke tempat yang dekat-dekat saja, yang gampang, walaupun rute sebenarnya sih lebih jauh. Yang saya rasakan dia si pemberontak ini jadi jauh lebih kalem. Asalkan fokus kita benar-benar cuma ke titik-titik itu. Jangan ngelantur berpikir, aduh baru segini, aduh baru segitu masih banyak, jangan! Nantinya lagi-lagi jadi beban dan muncul lagi perang pikiran.

Memang sih di akhir-akhir lari tetap saja terasa badan capek dan pegal karena otot kan bekerja dan energi juga terpakai, tapi paling nggak mental kita lebih terjaga jadinya fisik bisa lebih sedikit di-push.

Oke deh, selamat mencoba triknya dan kasih komen kalau berhasil ya.

Nantikan tulisan berikutnya, stay tuned!

Salam sejahtera.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *