SEPATU LARI, PERLUKAH?

Spread the love

Sobat runner untuk kita-kita ini sepatu lari adalah alat utama dan sudah menjadi kebutuhan pokok. Fungsi utama dari sepatu lari adalah untuk melindungi kaki dari benda-benda yang berpotensi melukai dan juga dari cedera. Karena lari ini disamping sehat dan menyenangkan ternyata juga mengandung risiko cedera yang tinggi.

Ada banyak sekali merk dan model sepatu lari yang dipasarkan, kalau saya iseng jalan-jalan ke Sports Station atau Planet Sports cuma bisa terkagum-kagum sambil garuk-garuk kepala. Lihat tag harganya itu lho luar biasa muahalll, sampe jutaan brow! πŸ˜€

Tentunya sudah pada familiar dong ya sama nama-nama besar macam Nike, Adidas, Reebok, Brooks, Asics, New Balance, dan banyak lagi deh brand luaran yang beredar disini. Jaminan mutu lah katanya kalau produk mereka.

Tidak mau ketinggalan juga turut meramaikan brand sepatu lokal Indonesia seperti Spotec, Eagle, League, dan Specs, mereka meluncurkan produk yang lebih terjangkau dengan harga yang rata-ratanya masih dibawah brand luar.

Specs Makalu
Specs Makalu
Specs adalah salah satu produsen asal Indonesia

Ternyata sepatu lari itu modelnya ada bermacam-macam, bukan semata-mata tampilan saja tapi fungsinya juga. Ada yang dikhususkan untuk medan lari tertentu, untuk bentuk kaki tertentu, tipe pronasi tertentu, ada juga untuk stability lah, memory foam lah, dan entah apa lagi deh banyak macamnya saya juga bingung akhirnya.

Dengan banyaknya brand yang bermain dan banyak pula macam sepatu lari sepertinya dunia lari adalah market yang sangat potensial yah dari segi bisnis, ada banyak celah pasar disitu.

Harga sendiri berbanding lurus dengan kualitas, katanya sih begitu. Sepatu-sepatu itu harganya mahal karena menurut keterangannya disitu ada teknologi dan bahan tertentu yang konon bisa menunjang performa lari, meningkatkan kenyamanan, dan mencegah cedera.

Masalah apa benar fungsinya seperti yang ditawarkan dan apakah kita memang butuh sepatu yang semahal itu?

Christopher McDougall

Ada seseorang bernama Christopher McDougall, dia ini selain seorang jurnalis dan penulis buku juga seorang pelari. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Born to Run, buku yang jadi best seller dan salah satu buku yang direkomendasikan bagi para pelari.

Awalnya McDougall ini sangat penasaran kenapa cedera sepertinya sudah menjadi wabah yang rutin menimpa para pelari, bahkan dirinya juga berkali-kali mengalami cedera. Dia berusaha mencari tahu kenapa ini bisa terjadi.

Christopher McDougall
Christopher McDougall
penulis buku Born to Run
www.chrismcdougall.com

Tarahumara

Dia mendengar ada satu suku asli yang tinggal di satu daerah pegunungan terpencil di Mexico namanya suku Raramuri atau sering disebut juga Tarahumara, mereka ini dikenal sebagai pelari jarak jauh yang hebat.

Maka pergilah dia kesana untuk mempelajari kehidupan suku Tarahumara ini. McDougall mendapati orang-orang suku Tarahumara ini selain merupakan pelari-pelari jarak jauh yang hebat mereka juga sangat sehat dan hidup bahagia. Mereka tidak mengenal penyakit-penyakit kelas berat yang biasa menimpa masyarakat modern.

Itu disebabkan karena pola hidup mereka sehari-hari sangat jauh dari peradaban modern, mereka masih mempertahankan pola hidup tradisional warisan leluhurnya sejak ratusan tahun yang lalu. Leluhur mereka dulu sengaja mengungsi ke daerah pegunungan terpencil itu demi menghindari para penjajah Spanyol, tempat itu memang sangat sulit dijangkau orang luar hingga mereka bisa hidup damai disitu tanpa ada pengaruh dari luar selama ratusan tahun.

Mereka hidup berdampingan dengan alam, tidak egois, hidup bahagia saling bergotong-royong, makanan juga sehat alami. Dan mereka sehari-hari punya kebiasaan lari yang jaraknya nggak tanggung-tanggung, McDougall menyebutnya jarak mega-marathon. Hebatnya lagi mereka lari dengan kecepatan yang mengagumkan dan bebas cedera! Padahal mereka lari itu cuma mengenakan sandal tipis yang diikat tali, hampir telanjang kaki lah.

Born to run

Berdasarkan hasil pengamatannya terhadap kebiasaan berlari suku Tarahumara ini McDougall akhirnya berkesimpulan bahwa manusia pada dasarnya memang terlahir untuk berlari. Bakat alami ini sudah tertanam sejak jaman nenek moyang kita dulu dimana mereka biasa berlari untuk menunjang kelangsungan hidup mereka.

Kalau memang berlari itu bakat alamiah manusia maka cedera karena berlari itu harusnya tidak ada, dan pada kenyataannya dulu memang nggak ada. Kenapa pada akhirnya cedera menjadi sesuatu yang sangat umum itu karena kita sekarang cara larinya berubah menjadi tidak alami lagi. Cara lari yang tidak alami inilah yang merusak.

Kenapa kita tidak lagi berlari secara alami? Ternyata justru sepatu lari yang menjadi penyebab utamanya.


Sepatu lari, sang pembawa petaka

Ya, sepatu lari yang biasa kita pakai itulah penyebabnya. Sepatu lari yang ternyata menghambat dan mengubah pergerakan kita menjadi tidak lagi mengikuti pola alamiahnya. Inilah yang akhirnya menyebabkan cedera berkepanjangan.

McDougall tentu tidak sembarangan mengatakan ini, karena ternyata kalau ditelusuri wabah cedera pelari itu sebelumnya memang nggak ada. Hal itu baru mulai muncul sekitar awal tahun 70-an ketika mulai muncul generasi baru sepatu yang dinamakan running shoes atau sepatu lari. Ciri utama sepatu lari ini adalah foam atau busa mid-sole yang tebal dengan tujuan untuk meredam benturan kaki ke tanah. Bentuknya semakin menebal di bagian tumit.

Nike adalah pelopornya dan tidak lama kemudian produsen lain pun segera mengikuti dengan membawa inovasinya masing-masing.

Dan semakin kesini karena semakin banyak kasus cedera yang dialami pelari para produsen sepatu membuat foam yang lebih tebal lagi dengan anggapan semakin tebal foam akan semakin melindungi dari cedera.

Nike Zoom Vaporfly
Nike Zoom Vaporfly
sepatu lari model maximalist dari Nike dengan foam super tebal

Sialnya alih-alih melindungi dari benturan justru foam tebal ditambah bentuknya yang menukik ke depan ini yang mengganggu gerakan lari kita. Foam tebal ini menyebabkan telapak kaki tidak bisa mendarat dengan benar. Inilah yang berdampak buruk ke ke kaki dan akan menyebabkan cedera.

Berbeda dengan orang-orang Tarahumara yang berlari hanya mengenakan sendal tipis, kaki mereka tidak terganggu sepatu jadinya mereka bisa mempertahankan cara berlari yang alamiah hingga mampu berlari jauh tanpa takut cedera.

Huarache sandals of Tarahumara tribe
Huarache
sandal tradisional suku Tarahumara

Contoh lain adalah pelari-pelari Kenya. Di dunia lari siapa sih yang nggak gentar sama mereka? Runyam deh urusan kalau mereka sudah turun. Ternyata orang-orang Kenya itu dari kecil biasa lari tanpa alas kaki alias nyeker lho, maklum nggak kebeli sepatu. Tapi justru dengan begitu mereka terbentuk secara alami menjadi pelari-pelari handal. Mereka baru mulai memakai sepatu-sepatu mahal ketika mulai ikut kompetisi sana sini, disitu mereka mulai mendapat uang dan sponsor.

Barefoot Running

Berawal dari situ McDougall membuat suatu gerakan lari yang baru yaitu barefoot running alias lari nyeker, dia sampai menyarankan segera buang sepatu larimu karena itu bisa berbahaya. Menurut McDougall semua teknologi dan keunggulan yang ditawarkan disitu hanya akal-akalan marketing belaka. Dan you know what, saya kok sepertinya setuju dengan pendapatnya.

Tapi lucunya sementara McDougall benar-benar lari dengan kaki telanjang mazhab barefoot running ini juga oleh beberapa produsen malah dimanfaatkan sebagai peluang pasar dengan munculnya sepatu lari generasi yang baru lagi, yaitu minimalist running shoes.

Ciri sepatu lari ini memiliki mid-sole tipis hampir menyentuh tanah. Sengaja katanya dibuat agar sedekat mungkin dengan tanpa alas kaki tapi masih memberikan cukup perlindungan. Dari segi harga sebetulnya sepatu minimalis ini nggak jauh berbeda juga dengan sepatu lari yang biasa.

Vibram Fivefingers V-Trek
Vibram Fivefingers V-Trek
sepatu minimalis dari Vibram


Kemudian ditambah juga bermunculan seminar dan pelatihan berbayar barefoot running. Jadi lagi-lagi terlepas aliran running apa yang lagi hit dunia lari memang benar-benar market buat mereka-mereka yang suka mencari celah bisnis, lah mau nyeker kok malah sama juga mahal πŸ˜€

Danny Dreyer

Selain Christopher McDougal ada satu orang lagi yang percaya bahwa lari itu harusnya tidak menyebabkan cedera, dia adalah Danny Dreyer founder dari Chi Running.

Danny Dreyer the founder of Chi Running
Danny Dreyer
founder Chi Running

Chi Running ini adalah satu metode lari yang didasari pada prinsip-prinsip tai chi. Dreyer berkeyakinan yang menyebabkan cedera itu bukan lari, tapi cara larinya yang salah. Oleh karena itu Dreyer sangat menekankan masalah teknik dan postur yang benar dalam berlari.

Dreyer mengajarkan para pelarinya agar selalu menjaga postur dan merasakan tubuhnya selama berlari karena dari situ si pelari akan tahu apabila ada sesuatu yang tidak benar.

Berbeda dengan McDougall yang menentang sekali pemakaian sepatu lari karena menurutnya semua itu akal-akalan produsen saja dan malah itu yang menjadi penyebab utama cedera, Dreyer tidak menentang pemakaian sepatu lari. Hanya saja Dreyer memiliki kriteria seperti apa sih sepatu lari yang baik itu.

Masih butuh sepatu lari?

Saya menemukan persamaan antara Christopher McDougall dan Danny Dreyer, keduanya percaya bahwa kita harus berlari secara alami kalau tidak ingin jadi langganan cedera. McDougall melakukannya dengan meninggalkan sepatu larinya sementara Dreyer dengan teknik Chi Running-nya.

Saya sangat setuju dengan mereka, saya yakin berlari itu sesuatu yang alamiah buat kita manusia, saya juga percaya karena merasakan sendiri sepatu lari dengan foam tebal itu justru mengganggu.

Karena itu buat saya sekarang belajar teknik lari yang benar itu nomor satu, yang paling penting. Sementara masalah sepatu lari buat saya masih dibutuhkan, tapi kebutuhannya sekedar untuk proteksi dari benda-benda yang bisa menyebabkan luka saja, soalnya agak susah cari tempat yang aman buat berlari nyeker. Plus fashion juga lah sedikit karena saya masih suka sepatu yang penampakannya keren, hehehe. Nggak perlu yang canggih dan mahal juga sih.

Kriteria memilih sepatu lari

Seperti sudah saya katakan kita nggak butuh sepatu canggih nan mahal, cukup agar kita terlindungi dan sedikit fashionable.

Adapun kriteria dalam memilih sepatu larinya seperti ini (sebagian saya comot dari Danny Dreyer):

  1. Nyaman, ini pertama yang terpenting. Harus nyaman ketika dipakai, dan harus ada ruang lebih karena selama berlari kaki kita akan sedikit membengkak. Bagusnya belilah 1/2 atau 1 nomor diatas ukuran normal kita. Jangan ngepas apalagi kurang, gampang sakit nanti kakinya.
  2. Fleksibel, mudah ditekuk di bagian tengah depan sekitar sendi jari-jari kaki. Ini akan memberikan rasa nyaman dan memudahkan gerakan kita waktu berlari.
  3. Ketebalan foam secukupnya saja, nggak perlu terlalu tebal karena malah mengganggu. Kalau takut cedera karena foamnya kurang tebal solusinya adalah belajar teknik yang benar. Terlalu tipis pun sebaiknya jangan kalau kita belum biasa, karena lumayan juga kalau larinya agak jauh kerasa sakit juga sedikit-sedikit.
  4. Foam di bagian tengah rata atau setidaknya hampir rata dari ujung jari sampai tumit, kalau istilah teknisnya ini sepatu model zero drop atau low drop. Hindari sepatu dengan foam yang terlalu tinggi di tumit karena model ini yang paling rentan cedera.
  5. Perhatikan tapak atau outsole sepatu, untuk lari di jalanan lebih idealnya sih yang tapaknya dari bahan karet karena lebih awet dibanding hanya foam saja. Perhatikan juga alurnya, jangan sampai sepatunya licin karena tidak cukup grip.
  6. Khusus untuk track lari dengan permukaan tanah atau lari cross country ada sepatu khusus yang tapaknya dilengkapi paku, ini memberi grip yang lebih baik. Harganya, ya begitulah deh πŸ˜€
  7. Untuk trail run juga maka terpaksa harus menggunakan sepatu khusus trail, karena kasihan sepatu jalanan kalau dipakai nge-trail gampang rusak disamping juga susah larinya karena gripnya kurang, apalagi kalau kondisi hujan, licin dan berlumpur. Cirinya adalah gigi di tapaknya yang besar-besar. Adapun harganya ya terpaksa masih mahal.
  8. Penampilan, ini buat beberapa orang nggak penting tapi buat yang lain termasuk saya jadi bahan pertimbangan juga.
  9. Harga, ini disimpan terakhir tapi sebetulnya mungkin terpenting ya, hehehe. Sesuaikan budget saja, tidak perlulah yang terlalu mahal kecuali memang alasan fashion atau kita benar-benar suka sama sepatu itu. Perlu diingat sepatu lari itu boros lho, seiring pemakaian foamnya bisa “mati” dan tapaknya bisa aus. Cuma beberapa bulan saja lho kalau dipakai rutin, atau kalau kita catat dengan Strava misalnya itu sekitaran 500 km sudah kelihatan. Sayang kan kalau belinya jutaan pakainya cuma sebentar sudah harus ganti. Lebih baik lagi kalau kita modis alias modal diskon, pilihlah sepatu yang lagi sale atau diskon πŸ˜€

Oke jadi seperti itulah ceritanya tentang sepatu lari, sekedar sharing untuk membentengi diri di tengah-tengah gencarnya marketing dan iklan sepatu-sepatu wah dengan harga selangit πŸ˜€

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, stay tuned!

Salam

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL


One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *