RUNNING MEDITATION, PART 4

Spread the love

Selamat pagi sobat runners, semoga semuanya senantiasa dilimpahi kebaikan yah, amin.

Pada tulisan Running Meditation part 3 kemarin kita sudah sampai di “tanpa penilaian” dimana kita mengedepankan kesadaran untuk melihat segala sesuatu dengan netral, tanpa adanya penilaian apapun.

Saya harap sudah mulai dilatih yah kesadarannya sedikit-sedikit karena ini kalau tidak dipraktikan sendiri bakalan susah pahamnya. Yang gampang-gampang saja dulu deh, kemarin kan ada contoh minum air yah, atau iseng lihat-lihat cewek di mal gitu, hehehe.

Selanjutnya kita mulai sedikit demi sedikit masuk ke praktik meditasi yah, mulai main-main teknis nih kayanya.

Oke let’s go…

Yang paling pertama harus dipelajari adalah napas, karena napas ini merupakan dasarnya meditasi. Sama di aliran meditasi manapun begitu. Oke mungkin saja ada sih yang tidak menggunakan napas sebagai dasarnya, tapi saya juga belum ketemu tuh.

Kenapa harus napas ya?

Napas

Napas itu secara sederhananya adalah proses menarik oksigen ke paru-paru dan mengeluarkan karbondioksida. Menurut buku biologi anak SD bernapas ini adalah salah satu ciri-ciri mahluk hidup kan ya? Kalau tidak bernapas dia tidak termasuk mahluk hidup, begitu katanya.

Tapi ternyata napas itu memiliki fungsi dan makna yang jauh lebih dalam, bisa dilihat dari sudut pandang spiritual maupun sains. Dan by the way, maksud spiritual disini sama sekali bukan permistisan atau klenik yah.

Dari sisi spiritual napas itu dipandang sebagai kehidupan itu sendiri dan merupakan jalan untuk terhubung dengan Sang Sumber dari segala sumber, apapun itu namanya deh menurut berbagai aliran kepercayaan. Jadi ini seperti yang saya sudah katakan di Running Meditation part 1 bahwa meditasi bagi orang Timur itu sifatnya spiritual.

Sementara dari sisi sains napas itu selain dipandang sebagai proses biologis juga erat kaitannya dengan kesehatan, baik itu kesehatan fisik maupun kejiwaan.

Dan lucunya nih, kesadaran sains akan luasnya fungsi napas baru dimulai belakangan ini sekitar tahun 1990-an. Saat itu sains mulai digunakan untuk mempelajari segala bentuk meditasi termasuk Yoga, dan mereka menemukan bahwa meditasi dan teknik pernapasannya ternyata berdampak sangat baik untuk kesehatan. Dari situlah masyarakat Barat mulai tertarik untuk mempelajari lalu mengadopsi praktik meditasi yang sebelumnya mereka sangat skeptis terhadap hal-hal beginian.

Kemana aja mereka selama ribuan tahun ini ya?

Saya tidak akan membahas sisi spiritual disini karena itu agak-agak berat yah dan tidak semua orang bisa menerima juga, jadi kita bicara yang bisa diterima umum sajalah.

Sekarang kita mulai masuk ke teknis deh yah.

Menyadari napas

Pernahkah kita memperhatikan dan menyadari napas kita sendiri?

Nggak pernah deh kayanya. Napas ya napas aja, tarik-buang tarik-buang gitu, wong bayi baru lahir juga bisa. Kalaupun iya ada perhatian juga jarang banget yah?

Bernapas ini saking sudah dianggap sangat biasa jadinya diabaikan saja, paling juga kalau sudah nggak bernapas artinya sudah almarhum. Sepertinya satu-satunya saat kita bisa sadar akan napas adalah ketika kita ngos-ngosan capek kehabisan napas waktu olahraga, iya kan? Hehehehe.

Sekarang coba kita perhatikan napas sendiri dulu yah.

Sekarang coba kita santai sejenak, terserah mau sambil berdiri atau duduk yang penting rileks saja deh. Lalu tarik napas, biasa saja seperti yang biasa dilakukan tapi coba tariknya perlahan saja sampai penuh, setelah itu buang perlahan sampai kosong. Ikuti saja napasnya nggak usah banyak mikir, sambil dirasakan juga yah. Ulangi beberapa kali.

Sumber: horsefulnesstraining.com

Berikutnya letakan letakan satu tangan di dada dan satunya lagi di perut seperti gambar di atas. Lalu lakukan lagi seperti tadi, tarik napas perlahan sampai penuh lalu buang perlahan sampai kosong. Sama juga jangan banyak mikir, cukup rasakan saja. Ulangi beberapa kali juga.

Selesai, sekarang bagaimana rasanya? Apapun itu, enak atau tidak enak, biarkan saja jangan ambil pusing.

Sekarang perhatikan tadi waktu bernapas mana yang bergerak mengembang dan mengempis, dada atau perut? Kalau dada yang bergerak itu artinya kita bernapas dengan teknik napas dada, dan kalau perut yang bergerak itu artinya kita bernapas dengan teknik napas perut.

Jadi bisa mulai ngeh yah sekarang sama napas sendiri?

Teknik napas

Memang ada dua macam teknik napas yang umum yaitu napas dada dan napas perut, walaupun kebanyakan orang sih sebetulnya tidak menyadari hal ini. Perbedaannya terletak di cara kita menarik dan membuang napasnya, seperti yang sudah kita coba tadi itu lho.

Banyak yang salah kaprah dengan menyamakan napas perut dengan napas diafragma, padahal keduanya berbeda.

Napas diafragma itu memang ada sebetulnya dan itu berbeda dari napas dada atau napas perut, bisa dikatakan ini adalah teknik napas ketiga lah. Hanya dipraktikan oleh kalangan tertentu jadi tidak banyak diketahui memang, dan disini juga kita tidak akan bicara itu karena selain lumayan sulit untuk dilakukan juga sepertinya aplikasinya tidak relevan dengan bahasan running meditation ini.

Oke sekarang kita lihat satu persatu teknik napas yang dua itu saja.

Napas dada

Napas dada adalah cara bernapas dengan mengembang dan mengempiskan dada untuk menarik dan membuang udara.

Napas dada ditandai dengan mengembang dan mengempisnya dada ketika menarik dan membuang napas

Napas ini sebetulnya tidak efektif karena paru-paru hanya bisa menampung sebagian kecil oksigen saja dari kapasitas seharusnya. Akibatnya selain menyebabkan napas kita jadi pendek kekurangan oksigen juga berdampak tidak baik bagi kesehatan. Kinerja otak menurun, stamina menurun, tekanan jantung naik, mudah stres, mudah gelisah, mudah marah, mudah kena penyakit, dan banyak lagi.

Jadi kesimpulannya napas dada ini not recommended lah, tetapi justru seperti inilah cara bernapas kita pada umumnya, cuma kita nggak pernah ngeh. Akhirnya tanpa disadari kita menyabot kualitas hidup kita sendiri setiap hari.

Napas perut

Napas perut adalah cara bernapas dengan mengembang dan mengempiskan perut untuk menarik dan membuang udara. Ini adalah teknik napas yang lebih baik karena kapasitas paru-paru menjadi lebih besar otomatis asupan oksigen ke tubuh jadi lebih banyak.

Napas perut ditandai dengan mengembang dan mengempisnya perut ketika menarik dan membuang napas

Manfaat lainnya juga banyak, antara lain meningkatkan stamina, memperkuat otot inti, meningkatkan metabolisme, menurunkan tingkat stres, menurunkan tekanan jantung, dan masih banyak lagi.

Jadi manfaat untuk kesehatan sudah jelas lah, bagi orang yang suka berolahraga juga akan terasa sekali manfaat napas perut ini untuk meningkatkan performa. Para penyanyi juga menggunakan teknik ini karena memang juga sangat membantu performa mereka bernyanyi.

Bagi para praktisi meditasi dan olah energi napas perut ini adalah wajib karena memang ini yang menjadi dasarnya, karena napas perut ini berhubungan erat dengan energi. Yes, terlepas kita percaya atau tidak kalau kita mempraktikan meditasi maka sadar atau tidak kita berurusan dengan energi.

Teknik napas perut sendiri sebetulnya sudah banyak digunakan di dunia olahraga termasuk lari, tetapi baru sebatas penunjang fisik untuk meningkatkan performa. Sementara dalam running meditation teknik napas perut ini selain kita gunakan untuk menunjang fisik juga kita gunakan untuk meditasi yang efeknya selain fisik juga pada kejiwaan kita.

Apabila kita sudah terbiasa dengan napas perut that’s good, kita bisa melangkah ke tahap berikutnya. Tapi kalau belum biasa maka sebaiknya kita mulai membiasakan diri, dimulai dari sekarang.

Biasakan napas perut

Pertama tentu kita mesti belajar napas perut kalau belum bisa. Sebetulnya sih gampang cuma memang harus dibiasakan saja, dan memang itu butuh kesadaran dan waktu juga karena kita akan mengubah pola napas dada yang sudah terprogram otomatis di otak bawah sadar selama bertahun-tahun.

Caranya seperti tadi itu, dimulai dengan posisi badan sangat rileks boleh berdiri atau duduk yang penting punggung tegak. Kemudian tarik napas perlahan sampai penuh melalui hidung, buang lagi perlahan sampai kosong melalui hidung juga. Tetapi menarik dan membuang napasnya dengan cara mengembang dan mengempiskan perut, dada harus tetap diam. Kalau belum biasa bisa dibantu dengan meletakan satu tangan di dada dan satunya lagi di perut, coba perhatikan apa yang bergerak.

Selama proses bernapas usahakan selalu ikuti dengan kesadaran penuh.

Kalau sulit melakukan dalam posisi duduk atau berdiri boleh posisi berbaring di lantai atau apa saja yang permukaannya rata dengan punggung menempel.

Napas perut sambil berbaring

Praktikan seperti ini setiap hari, tidak usah lama-lama deh untuk awal. Karena biasanya memang rasanya tidak nyaman, kagok gitu lah karena ini merupakan sesuatu yang baru. Lakukan 5 menit saja dulu tapi lakukan beberapa kali sesi setiap harinya.

Dan ingat ya, selalu lakukan dengan “kesadaran” penuh. Karena dengan begini kita melatih untuk “aware” terhadap napas kita, dan ini merupakan tahap paling awal meditasi.

Kalau sudah merasa nyaman dengan 5 menit, bisa naik ke 10 menit, lalu 15 menit, dan seterusnya. Tujuannya adalah untuk membiasakan diri dan memprogram ulang otak bawah sadar kita, nanti pada akhirnya napas perut ini akan refleks saja menjadi napas kita sehari-hari, bukan hanya pada saat kita meditasi atau lari.

Oke yah, begitu ceritanya tentang napas, selanjutnya di part 5 kita mulai praktik meditasi dasar. Terus larinya kapan??? Nanti dong satu satu dulu!

Silakan dilatih dan nantikan episode selanjutnya, stay tuned! Jangan lupa tinggalkan jejak yah di kolom komentar.

Salam.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *