RUNNING MEDITATION, PART 3

Spread the love

Good morning runners, semoga kebaikan senantiasa dilimpahkan kepada kita semua yah, amin.

Pada tulisan Running Meditation part 2 kemarin kita sampai ke pembahasan tentang “kesadaran” dimana kesadaran ini bisa digambarkan sebagai “sang pengamat” yang merupakan kunci dari meditasi, dan bagaimana dengan kunci kesadaran ini kita selalu hadir di saat ini.

Kali ini kita akan bicara tentang non-judgment atau tanpa penilaian, atau netral lah begitu. Karena ini juga bagian dari meditasi dimana kita harus mampu melihat segala sesuatu dengan apa adanya, tanpa penilaian.

Yuk kita mulai…

Penilaian

Sekarang bayangkan ini…

Ceritanya di hari Minggu pagi yang cerah ceria nih kita lagi lari di jalanan. Larinya santai, enjoy, sambil lari kita sambil lihat-lihat juga sekeliling, asyik deh pokoknya.

Eh tiba-tiba lewat nih ada cewek sedang lari juga. Kita lihat dong otomatis, kelihatan tuh kulitnya putih, rambutnya sebahu dicat agak-agak kemerahan gitu,  pakai bajunya model tank tops ketat, celana juga ketat, dan sepatunya warna putih merk Hoka One One.

Pikiran kita? “Gileee…. tuh cewek cantik bener, cocok banget deh warna rambut sama kulitnya. Bajunya itu lho, seksi ngetat broooo. Wuih sepatunya juga edun euy, tajir dia”.

Terbayang? Jujur deh, wong saya juga nggak jauh pasti begitu kok, hehehe.

Sadar nggak sih kenapa kita bisa sampai berpikir begitu?

Padahal coba lihat lagi yang betul deh, yang kita lihat sebetulnya kan cuma cewek, kulitnya putih, rambutnya sebahu berwarna agak kemerahan, bajunya seperti itulah, dan sepatunya warna putih kelihatan merknya Hoka One One. Sudah begitu saja!

Lah terus kenapa bisa sampai muncul pikiran cantik, seksi, tajir dan lainnya?

Ini dia yang dinamakan “penilaian”. Kita menilai apa yang kita lihat berdasarkan referensi-referensi yang sudah tertanam di otak. Yang namanya cantik, seksi, tajir, dan sebagai-sebagainya itu kan karena kita sudah punya referensinya, iya kan?

Bilang cantik dari mana? Pasti kita punya referensinya dong. Bilang seksi? Punya referensi juga, mungkin dari bule-bule yang biasa pakai bikini. Bilang tajir? Sama referensi juga, mentang-mentang sepatunya sekian juta gitu harganya. Padahal harga itu kan cuma angka rupiah saja yah, kitanya sendiri yang bilang itu mahal atau murah, dan itu relatif banget kan tergantung daya beli orangnya.

Belum lagi tambahan misalnya kalau kita punya referensi agama tertentu, kita menilainya bisa saja jadi “Walah sayang banget tuh cewek, cantik-cantik kok terbuka gitu sih, dosa lho itu. Terus jadi dilihatin orang. Ih amit-amit deh”. Lengkap yah penilaiannya, hehehe.

Jadi terbayang yah ketika kita melihat segala sesuatu sudah tidak polos lagi, tapi bercampur dengan segala macam referensi yang kita punya. Akhirnya kita selalu menilai tanpa pernah kita sadari. Kalau sudah begini pandangan kita sudah tidak akan pernah bisa netral lagi, akan selalu bias. Nah sadar nggak sih kalau kita sering berdebat sama orang gara-gara masalah beginian?

Tanpa penilaian

Seperti sudah dikatakan di tulisan Running Meditation part 1 tujuan meditasi adalah mengamati momen ini tanpa ada penilaian.

Bagaimana mengamati tanpa penilaian ini?

Ini adalah sesuatu yang agak-agak tricky karena pada dasarnya memang otak kita sudah dipenuhi terlalu banyak referensi, jadi ketika kita melihat sesuatu secara otomatis referensi-referensi itu muncul.

Tanpa ada referensi sebagai pembanding kita akan melihat bahwa sebuah mobil hanyalah sebuah mobil

Untuk itulah kesadaran sebagai sang pengamat sangat berperan, gunakan kesadaran ini untuk selalu mengawasi pikiran dan perasaan apa saja yang muncul.

Ketika suatu pikiran atau perasaan muncul coba amati seperti apa kemudian telusuri kenapa bisa muncul seperti itu. Kita tidak perlu kemudian memvonis bahwa pikiran atau perasaan ini baik atau buruk karena kalau begitu lagi-lagi kita menilai, cukup kita aware saja.

Coba tes deh lihat ini.

Gambar diambil dari vectorstock.com

Walah kenapa balik ke cewek ya? LOL Biar real deh contoh kasusnya.

Katakanlah kita di jalan nyata ketemu cewek seperti itu, coba perhatikan pikiran-pikiran yang muncul di kepala. Bisa itu kagum, bisa jijik, bisa cuek, bisa ngeres, apapun itu kita sadari saja dan biarkan saja lewat tanpa perlu menilai. Lalu coba telusuri pikiran kita itu, kenapa kagum, kenapa jijik, kenapa ngeres, dan sebagainya. Nanti ketahuan deh kenapa-kenapanya.

Intinya adalah kita berlatih untuk mengedepankan kesadaran dan bersikap netral, ini nanti akan sangat bermanfaat di segala aspek kehidupan kita. Dan ngomong-ngomong saya juga masih harus banyak sekali latihan seperti ini karena saya orangnya sangat judgmental, sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun.

Jadi sekali lagi kuncinya adalah “kesadaran, kesadaran, dan kesadaran”.

Oke selamat berlatih yah. Berikutnya kita akan mulai masuk ke teknik meditasinya, dimulai dengan napas. Check it out di Running Meditation part 4!

Tapi sebelum kesitu silakan tinggalkan jejak dulu di kolom komentar.

Salam.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *