RUNNING MEDITATION, PART 2

Spread the love

Selamat pagi sobat runner semua, pagi yang indah nih enak sekali rasanya bikin tulisan ini sambil menikmati hawa pagi dan segelas kopi. Yes, porsi saya ngopi di gelas gede bukan cangkir, hehehe.

Lanjut lagi tulisan Running Meditation yah, di tulisan kemarin itu sudah dijelaskan apa itu meditasi dan seperti apa saja praktiknya, juga sudah saya katakan bahwa kuncinya adalah “kesadaran”. Nah pada tulisan Running Meditation part 2 ini saya akan jelaskan seperti apa sih kesadaran, karena ini sangat penting sebelum kita masuk ke praktik meditasinya.

So here we go.

Kesadaran

Kesadaran atau awareness dalam Bahasa Inggris, apa sih itu?

Saya mau tanya nih, “teteh, atau akang, lagi ngapain sih?”. Saya yakin langsung deh dijawab “Lagi baca tulisanmu lah masbro, pake nanya lagi lu!”, hehehe.

Bagus kalau bisa jawab pertanyaan itu artinya kita sadar, karena itu kita tahu ada yang bertanya dan kita jawab begitu karena memang sekarang sedang membaca. Kita ngeh begitu jadinya.

Sekarang coba perhatikan apa yang kita pakai, baju, celana, sepatu, dan sebagainya. Coba ingat-ingat, tadi pagi waktu sehabis mandi kita pakai semua itu sambil kitanya sadar nggak sih? Oh gue mau pake kaos hitam yang gambar Batman ah, pake celana jeans yang kemaren beli, dan sendal gunung. Atau tadi pagi sambil melamun asal comot saja dan baru ngeh waktu baca tulisan ini? Atau jangan-jangan malah pakai baju terbalik lagi karena tadi pagi banyak melamun.

Pernah juga mengalami pasti ya, atau mungkin sering malah, kita menyetir mobil nih sambil dengar radio, jalan terus mobilnya tiba-tiba eh kok sudah sampai tujuan. Sama sekali tidak sadar lho, nggak ngeh tadi nyetir lewat jalan mana saja, di jalan ada apa saja, nggak ngeh tadi di radio yang diputar lagu apa saja, pokoknya tiba-tiba sudah sampai saja.

Bisa begitu ya? Sering terjadi lho.

Mungkin kita mengatakan itu karena tidak sinkron antara badan dan pikiran, badannya sedang dimana dan melakukan apa sementara pikirannya sedang kemana. Jadi badan ini seperti robot yang terprogram untuk bergerak otomatis sementara pikiran bisa bebas melakukan hal-hal lain.

Oke betul memang seperti itu, itu terjadi karena badan kemana pikiran kemana. Apalagi yang namanya pikiran itu bisa sangat liar dan tidak terbatas ruang dan waktu. Bisa saja badan kita hari ini sedang duduk sementara pikiran kita berada di sepuluh tahun yang lalu misalnya atau malah sedang di masa depan.

Tapi pertanyaannya, kok kita bisa tahu sih bahwa badan dan pikiran tidak sinkron? Kok bisa tahu kita sedang nyetir? Kok bisa tahu dari tadi tuh kita lagi terus-terusan melamun bernostalgia waktu zaman SMA dulu misalnya? Kok bisa tahu kita sedang kesal sama seseorang?

Artinya memang ada “sesuatu” yang lain lagi kan? Sesuatu yang “tahu” bahwa badan sedang begini pikiran sedang begitu, dia juga tahu perasaan sedang bagaimana. Dia juga tahu itu ada lagunya Bruno Mars sedang diputar di radio. Nah perkenalkan, inilah dia “kesadaran”.

Sang pengamat

Kesadaran ini bisa kita gambarkan sebagai “sang pengamat”.

Dia mengamati dan tahu apa yang di dalam diri kita dan lingkungan sekitar yang ditangkap oleh panca indera. Dia berada di atas fisik, pikiran, dan perasaan, dan dia juga netral dalam melihat sesuatu hanya apa adanya.

Dengan kesadaran ini kita bisa tahu bahwa kaki pegal, tahu bahwa pikiran kita pusing banyak kerjaan, dan tahu juga kalau kita lagi bete karena gebetan jalan sama cowok lain. Dia juga tahu kita sedang ada dimana, sedang apa, dan dengan siapa.

Jadi kalau saat ini kita tahu persis bahwa kita sedang di kafe misalnya, sedang membaca tulisan ini di laptop sambil dengarkan lagu-lagunya Blackpink, sambil menikmati mochacchino dan di sebelah ada pasangan sedang main Roblox, that’s good itu artinya kesadaran kita hadir di situ.

Tapi kalau kita nggak ngeh badan sedang duduk di kafe sambil pegang cangkir mochacchino dengan background Blackpink sementara kita asyik melamun sedang liburan di Bali, maka itu artinya kesadaran kita sedang terseret oleh pikiran ikut jalan-jalan ke Bali.

Kunci meditasi

Mengulang lagi tulisan sebelumnya meditasi itu bukan mengosongkan pikiran atau blank tidak memikirkan apa-apa. Meditasi juga bukan berusaha membuang segala pikiran dan emosi negatif dan mengganti jadi positif. Meditasi itu hanya “menyadari” saja dan mengamati saat ini dan apa saja yang ada di dalamnya dengan rileks, sesederhana itu.

Untuk bisa begitu kuncinya adalah “kesadaran”, dan kesadaran itu harus hadir di “saat ini”.

Jadi ketika kita melakukan meditasi kita kita tinggal sadari saja saat ini, kita hadir di momen ini. Kemudian amati saja semua yang terjadi baik itu di dalam maupun di luar diri kita tanpa ada penilaian. Entah itu sensasi tubuh, perasaan tertentu, pikiran ini dan itu, dan termasuk segala sesuatu yang terjadi di luaran, cukup kita tahu saja dan biarkan mengalir.

Ada perasaan marah kepada seseorang misalnya kita cukup tahu saja, oh marah nih lewat. Tidak perlu dilawan atau diusir, tidak perlu diikuti juga, lalu tidak perlu juga kita bilang “eh nggak boleh marah loh dosa”, biarkan saja mengalir apa adanya.

Ada pikiran “waduh pusing nih kerjaan kantor masih numpuk” juga biarkan saja mengalir apa adanya, kita cukup tahu. Ada burung di pohon atau kucing berantem juga kita tahu tapi kita biarkan saja.

Jadi begitulah, kita jadi “sang pengamat” yang netral yang mengamati semuanya di momen ini. Tanpa menilai ini baik atau buruk, tanpa menilai ini enak atau tidak enak, biarkan saja apa adanya.

Latihan kesadaran

Sekarang kita sudah paham apa itu kesadaran, selanjutnya kita latihan praktik langsung. Yang gampang-gampang saja deh contohnya, kita coba minum yah.

Praktik melatih kesadaran bisa dilakukan dengan cara sangat sederhana seperti meminum segelas air.

Ambil gelas lalu isi dengan air, tapi lakukan dengan penuh kesadaran. Coba sadari tiap-tiap langkahnya kita jalan ke dapur, sadari juga waktu kita mengambil gelas. Sadari juga waktu mengisi air, sadari suaranya, rasakan gelas yang semakin berat terisi, dan lihat bagaimana airnya memenuhi gelas.

Sekarang minum, pelan-pelan saja sedikit demi sedikit sambil disadari bagaimana air di mulut lalu turun ke kerongkongan sampai lambung, rasakan, tidak perlu menilai ini air pahit atau manis atau apa, cukup amati saja sensasinya. Rasakan juga di tangan bagaimana berat gelas semakin berkurang sampai gelas itu kosong.

Apabila kebetulan muncul pikiran atau perasaan apapun itu biarkan lewat saja tidak perlu dilawan, mau itu pikiran kita bilang “ih kurang kerjaan banget” atau “wuih enak coy” atau apapun itu biarkan saja. Tujuannya bukan untuk melawan atau membuang pikiran tapi cukup kita mengetahui bahwa ada pikiran semacam itu lewat.

Selesai minum, masih tetap dengan kesadaran letakan gelasnya di meja lalu amati bagaimana rasanya di tubuh, dan syukuri apapun itu. That’s it selesai, simpel banget!

Itu contoh sederhana praktik minum, kita bisa mulai melatih praktik semacam ini di berbagai macam aktifitas kita dimana saja dan kapan saja.

Dan ini memang perlu dilatih dan dibiasakan terus menerus karena kebiasaan kita memang membiarkan badan ini berjalan dalam mode auto-pilot sementara pikiran dan perasaan kita asyik bertualang kesana kesini. Karena itu banyak sekali momen-momen dalam hidup ini yang terlewat begitu saja.

Oke mudah-mudahan sampai sini jelas yah tentang kesadaran, berikutnya pada tulisan Running Meditatin part 3 adalah membahas tentang non-judgmental atau tidak menilai, alias netral. Lah terus praktik running meditationnya kapan nih masbro? Nanti dong sabar yah, hehehe.

Semoga bermanfaat yah, stay tuned dan silakan tinggalkan jejak.

Salam.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *