REVIEW LONG RUN 8-9-19

Spread the love

Hari Minggu 8 September 2019, seperti biasa weekend itu jadwalnya untuk long run. Start pagi pukul 4:40, masih gelap banget. Perlengkapan biasa saja yang penting bawa botol air dan reflective band supaya kelihatan oleh pengendara kendaraan bermotor, bahaya bro gelap!

Beda dengan sesi lari sebelumnya kali ini saya berniat betul-betul mempraktikan running meditation atau meditasi sambil berlari. Seperti apa runnning meditation ini dan kenapa saya mempraktikannya nanti saya buat tulisan khusus deh.

Seperti biasa sebelum mulai lari saya pelemasan dulu, set gps tracker, dan sebagai panduan menjaga disiplin pace saya menggunakan metronome, di awal saya set ke 170 bpm untuk pemanasan dulu.

Dan mulai deh…

Kali ini saya fokus ke napas dulu, empat step tarik tiga step buang, begitu terus. Sambil menjaga awareness atau kesadaran ke saat ini, momen ini. Merasakan napas, merasakan tubuh yang bergerak, bergantian dari kepala sampai kaki bolak balik. Kalau kebetulan lewat pikiran ngelantur apapun itu saya balikan lagi ke napas. Pokoknya intinya jaga selama berlari kita tetap mindful, tetap sadar, dan yang tidak kalah penting adalah: enjoy!

Lewat 2 km beat metronome saya naikkan ke 175 bpm, pikiran perasaan tetap dijaga sepanjang jalan. Lewat 5 km saya merasa lari kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, sangat ringan, sangat rileks, napas pun terasa sangat ringan walaupun ritmenya berubah jadi tiga-tiga, tiga step tarik tiga step buang.

Masuk jalan Martadinata jalur mulai menanjak, lanjut ke jalan Supratman, Diponegoro sampai Djuanda terus naik ke simpang Dago. Sama ajaibnya, masih terasa ringan dan rileks, walaupun memang harus menyesuaikan panjang langkah sebagai antisipasi jalur menanjak tapi cadence masih tetap dijaga 175 bpm. Napas masih sangat teratur.

Lewat simpang Dago lanjut ke atas arah terminal mulai tanjakan semakin tajam, jadi penyesuaian lagi panjang langkah tapi secara keseluruhan masih sangat oke.

Sampai terminal Dago, lanjut lagi ke arah Tahura, nah di jalan masuk menuju gerbang Tahura ini yang mulai terasa agak berat. Wajar sudut tanjakannya memang lumayan sadis, walaupun begitu secara keseluruhan masih terasa biasa saja. Memang sih terasa sedikit di paha dan betis tapi masih dalam batas sangat wajar lah. Fokus pikiran dan perasaan tentu saja diusahakan tetap terjaga.

Sampai gerbang Tahura, saya betul-betul takjub deh. Baru pertama kali ini rasanya lari sampai sini kondisi masih sangat fresh.

Perjalanan pulangnya justru yang terasa lebih berat, jalur turun tajam dan panjang lumayan terasa ke pergalangan kaki dan lutut. Jadinya saya beralih ke mode run-walk interval demi menjaga kondisi kedua kaki.

Sampai di jalan datar saya naikan lagi metronome ke 180 bpm, ternyata sama rasanya ringan sekali. Biasanya kalau saya lari segini tidak akan bisa bertahan terlalu lama, napas rasanya menjadi sangat pendek dan serasa balapan dengan kaki dan beat metronome. Kali ini sangat berbeda.

Akhirnya sesi long run hari ini saya tutup di CFD Buah Batu dimana langsung dilanjut dengan… kopi, muantaps!

Sampai disini saya melihat dengan menjaga pikiran tetap fokus dan sadar ternyata bisa sangat membantu performa lari, terlepas saya masih belum bisa sempurna mempraktikannya. Tapi it’s okay, paling tidak saya sekarang berada di jalur yang benar dan saya betul-betul bersyukur karenanya.

Saya jadi penasaran dan tidak sabar untuk sesi lari berikutnya, kita ulik lagi sampai dapat!

Oke kalau begitu sampai disini dulu tulisannya, sampai ketemu lagi dan terima kasih sudah mampir.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *