POCARI SWEAT RUN BANDUNG 2019, EVALUASI PERFORMA

Spread the love

Minggu 28 Juli 2019 puji syukur saya berkesempatan ikutan lagi Pocari Sweat Run Bandung edisi 2019, ini untuk kedua kalinya setelah 2018 lalu juga saya ikutan. Cuma kali ini yang ikutan sekeluarga saya dengan istri dan kedua anak. Bersyukur sekali rasanya ternyata mereka juga tertarik lelarian kita jadi satu tim deh kompak. Seperti tahun lalu juga saya turun lagi di kategori 10K sementara yang lain di 5K.

Race pack collection Pocari Sweat Run Bandung 2019, Harris hotel
d’noors saat pengambilan race pack

Tulisan ini bukan mengevaluasi atau me-review event-nya tapi untuk sharing pengalaman dan mengevaluasi performa saya secara keseluruhan mulai dari persiapan sampai masuk garis finish.

Persiapan

Persiapan saya sebetulnya bisa dikatakan sudah dimulai sejak 19 Februari lalu, lama juga sebetulnya. Itu adalah hari pertama saya mulai mempelajari dan menerapkan teknik Chi Running berdasarkan buku dan video Danny Dreyer, disitu saya seperti belajar lagi dari nol.

Sampai pertengahan Mei bisa dikatakan saya menjalani latihan reguler dengan menu cukuplah, ada base run 10 km plus, ada long run 20 km plus, ada speed work, ada easy tipis-tipis untuk recovery. Tujuan saya memang membangun stamina dan kecepatan khusus untuk 10K.

Masuk bulan puasa mulailah intensitas latihan menurun drastis, selama sebulan itu saya hanya menjalani lima sesi run malam hari dengan jarak dibawah 10 km, walaupun niat awalnya seminggu minimal harus empat sesi. Godaan setan malas memang luar biasa ๐Ÿ˜€

Lewat bulan puasa niatnya sih mau ditingkatkan porsi latihannya, awal sudah dimulai dengan lari ke gunung 13.5 km. Tapi berikutnya walaupun sesi larinya mulai normal tapi porsinya kok malah sepertinya berkurang ya. Harusnya lari reguler itu diatas 10 km malah jadinya sering dibawah itu, long run juga sering bolos. Saya lebih sering looping pendek dengan total jarak 6-7 km saja, walaupun seringnya sih intensitasnya lebih tinggi, tempo run lah yah ceritanya. Apalagi seminggu menjelang race cuma tapering saja ceritanya, easy tipis-tipis.

Jadi menghadapi race ini secara keseluruhan saya sebetulnya kurang yakin juga dengan kapasitas saya terutama stamina. Bisa sih lari pace 4 bawah malah pace 3 juga bisa, cuma nggak bisa jauh-jauh. Padahal targetnya sih 45 menit finish 10K, ambisius juga lumayan ๐Ÿ˜€

Tapi sudahlah, apapun yang akan terjadi terjadilah, saya cuma meniatkan akan berjuang maksimal.

Race day

Singkat cerita tibalah hari yang dinanti-nanti, RACE DAY! Excited, semangat, senang, adrenalin, upbeat lah pokoknya. Rasa yang selalu saya rasakan setiap kali mau race.

Memakai perlengkapan standard saja, jersey Reebok dari race pack, celana, sepatu jimat khusus race New Balance Zante, sport watch Amazfit, running belt buat menyimpan barang penting, plus teman lari setia saya: metronome.

Pocari Sweat Run Bandung 2019 official jersey
Official jersey bisa dicetak custom

Seperti biasa saya suka datang lebih awal ke start area di saat masih sepi, biar bisa cukup pemanasan dan bisa start di depan. Soalnya kalau baris di belakang alamat terjebak kemacetan waktu start. Bahkan ketika kita sudah baris di depan pun selalu deh ada kejadian runner yang datang belakangan malah pada merangsek maksa ke depan, etikanya dimana ini yah? Mending pas start langsung ngacir macam runner asal Kenya, ini malah lambat menghalangi jalan, jadinya yang lain ketahan sama dia. Tapi ya sudahlah.

Menjelang start set GPS tracker di jam, set metronome di 175, tinggal tunggu sambil gerak-gerak kaki dan sedikit loncat-loncat nggak jelas, entah nervous atau apa deh.

The race is on

Dan akhirnya…. GO!!! The race is on…

Sesuai rencana, karena saya berdiri di barisan depan maka start berjalan mulus bisa langsung lepas dari kerumunan. Saya nggak peduli orang-orang yang berseliweran kencang menyalip, biasa itu mah, lagian kebanyakan mah nggak terlalu jauh juga kesusul lagi nanti. Yang penting saya bisa lari tanpa banyak halangan.

Ya, saat race saya cuma fokus memikirkan diri sendiri, pace sendiri, metronome berperan jadi pacer setia. Lari buat saya adalah saat saya benar-benar belajar in-tune dengan diri saya sendiri, bermeditasi.

Baru beberapa meter sudah ketemu tanjakan naik ke jalan layang Pasopati, tidak masalah, toh saya biasa long run lewat rute tanjakan. Setelah itu menuruni jalan Cihampelas lanjut ke Wastukencana, jalan Merdeka lewati depan mal Bandung Indah Plaza (BIP).

Tidak ada masalah rasanya sejauh ini, sepertinya semua lancar. Sesekali tengok jam cek pace, di sekitar 4 menitan, good! Lewat hydration point minum sedikit karena memang haus dari tadi, lanjut.

Kilometer lima lebih mulai deh terasa berat, napas mulai terasa lebih berat. Mulai deh break jalan sedikit, baru lanjut lagi lari. Lewat enam kilometer semakin terasa berat, saya mulai masuk ke mode interval run-walk. Cek jam pace menurun drastis sampai ke 8 menit, walah cilaka deh gue!

Paksa lagi lari dengan metronome diturunkan ke 170 bpm tapi belum sampai satu kilo sudah break jalan lagi, begitu terus, ditambah perut dan kaki mulai terasa agak kram juga, mantap deh hadeuh!!!

Lewat kilometer delapan saya paksakan saja lari terus, kembalikan lagi metronome ke 175 bpm, form dan napas sudah tidak karuan tapi paksa, paksa, paksa! Segmen terakhir jalan Diponegoro agak menanjak saya push terus, sprinting hard menjelang finish.

FINISH!!!

Yes! Crossed the finish line finally, dan finish strong pula! Fiuh legaaa… Matikan GPS, berjalan lunglai dan muntah sedikit beberapa kali cuma saya telan lagi, pertama kali saya alami ini di race, hehehe.

Seperti biasa setelah finish ambil minuman segar Pocari Sweat, pisang, dan… medali!

Yes, the medal! Simbol perjuangan dan pengorbanan, kebanggaan para runner.

Pocari Sweat Run Bandung 2019 finisher medal
Finisher medal

Dari situ saya nggak buang waktu langsung ke tempat pijat karena kaki kiri mulai kram lagi ๐Ÿ˜€

Selesai pijat barulah santai dan enjoy. Menikmati penampilan Project Pop, kangen juga, keliling-keliling cari spot foto sayang banyak yang antri panjang. Ikutan nongkrong depan panggung utama siapa tahu dapat doorprize jam Garmin atau malah mobil Toyota Agya, yah nggak dapat, hehehehe.

Oke jadi untuk Pocari Sweat Run kali ini, it’s a wrap. Selesai, puji syukur saya dan keluarga berkesempatan ikut berpartisipasi, dan berhasil finish dalam kondisi sehat wal afiat dengan catatan waktu yang sangat baik.

Evaluasi

Secara umum terlepas dari tidak tercapainya target 45 menit bisa finish dibawah 50 menit adalah kebanggaan tersendiri, mengingat persiapan saya yang kurang maksimal. Dilihat dari peringkat juga bisa dibilang membanggakan, 20 dari 1655 untuk kategori pria, 27 dari 2840 secara keseluruhan.

Official race result Pocari Sweat Run Bandung 2019
Official race result

Di Pocari Sweat Run kali ini rutenya sendiri saya pikir lebih asyik dibanding tahun kemarin, ada lebih banyak variasi, tanjakan walaupun tidak terlalu berat, ada turunan juga.

Seperti yang saya duga, stamina benar-benar jadi kendala, saya memang bisa lari dalam pace cepat sesuai target tapi sayang tidak bisa bertahan lama disitu, cuma lima kilometer selesai. Jadi ini poin penting untuk dibenahi.

Selain itu dari segi teknik juga ternyata masih banyak kekurangan. Masih jauh dari rileks, langkah kaki masih terasa berat dan sedikit dipaksa, nafas juga masih terasa kurang natural, sedikit berat dan dipaksa hingga sebagian energi malah dipakai untuk itu.

Menjelang fase terakhir race mulai terasa kram di perut dan betis, sepertinya teknik saya kurang baik dan saya memaksa tubuh melebihi kapasitasnya.

Setelah dipikir-pikir, saya belajar Chi Running ini memang “loncat”, saya belum benar-benar menguasai teknik dasarnya malah sudah mulai latihan lari ke jalanan atau keliling track. Padahal tujuannya adalah lari dengan teknik yang benar dan rileks, kecepatan itu nanti akan mengikuti sendiri.

Body sensing juga sepertinya masih kurang, masih kurang perhatian terhadap apa yang terjadi di tubuh padahal ini sangat penting.

Jadi program saya berikutnya adalah belajar lagi yang benar dari nol. Mulai dari postur tubuh, cara melangkah, cara bernapas, belajar rileks, body sensing, semuanya deh.

Ini by the way sudah saya mulai sejak hari Senin kemarin, satu hari setelah race. Masih ada waktu tiga bulan ke race berikutnya: Jakarta Marathon 2019, kategori 10K lagi karena masih penasaran. Cukup waktu untuk persiapan serius, semoga target 45 menit atau kurang bisa tercapai kali ini, amin.

Oke, jadi begitulah kesimpulannya performa saya di race Pocari Sweat Run Bandung 2019 kemarin. Gimana sobat runner ikutan juga lari disitu? Silakan mau share pengalaman atau masukannya juga, tinggalkan jejak di kolom komentar yah, hehehe.

Nantikan tulisan saya berikutnya, salam.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL

5 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *