METRONOME UNTUK LATIHAN LARI

Spread the love
metronome model clip-on cocok untuk digunakan latihan lari
Metronome model clip-on

Pasti sobat runner tahu dong ya metronome, itu adalah alat yang dipakai untuk menjaga tempo ketukan di musik. Kalau orang dengan latar belakang musik pastinya akrab sama benda satu ini. Bunyinya tak tok tak tok kalau lama-lama dengar biasanya jadi ngantuk seperti ada efek hipnotisnya.

Metronome

Ternyata, selain dipakai di musik bisa juga lho kita pakai metronome untuk latihan lari.

Prinsipnya sama saja sebetulnya, yaitu untuk menjaga ritme agar tetap konstan. Bedanya kalau di musik yang dijaga adalah ritme musiknya kalau di lari ya ritme larinya. Kita akan menggunakan metronome ini untuk melatih disiplin pace dengan cara mengontrol konsistensi langkah kita waktu berlari.

Ketahui dulu base pace dan cadence

Yang pertama harus kita lakukan adalah ketahui dulu berapa cadence di base pace kita untuk dijadikan patokan dasar.

Buat yang belum tahu, cadence adalah berapa banyak langkah kita dalam 1 menit berlari, hitungannya adalah spm atau strides per minute.

Base pace sendiri adalah apa yah agak bingung jelasinnya, gampangnya sih itu adalah pace yang biasa kita lari dengan nyaman, medium nggak terlalu sulit tapi nggak terlalu mudah juga, dan kita bisa bertahan di pace itu cukup lama. 30 menit deh yah paling nggak, atau 15 menit deh mungkin kalau buat pemula. Biasanya sih untuk lari di pace ini kita refleks saja sudah otomatis.

Kita cari tahu dulu berapa cepat base pace kita ini dan berapa cadence-nya disitu. Cara paling gampang dengan jam lari yang biasanya sudah dilengkapi dengan sensor untuk menghitung cadence, kita lari 1km sambil diukur langsung dapat angkanya.

Amazfit Stratos, multi-sport watch yang bisa menghitung cadence karena sudah dilengkapi sensor accelerometer
Amazfit Stratos, salah satu multi-sport watch yang bisa menghitung cadence karena sudah dilengkapi sensor accelerometer

Kalau nggak ada sensor cadence maka terpaksa dihitung manual langkahnya, lari saja selama 1 menit sambil dihitung berapa banyak langkahnya. Kalau 1 menit sulit, 30 detik saja cukup hasilnya dikalikan 2. Atau kalau masih sulit, lari 20 detik saja deh hasilnya nanti kalikan 3.

Kalau pace dan cadence sudah kita dapatkan maka kita sekarang sudah punya patokan dasar, enak kalau sudah begini.

Lari dibantu metronome

Sekarang kita akan mulai latihan lari dengan dibantu metronome. Kalau belum punya metronome, belilah yang model clip-on banyak di toko alat musik offline maupun online. Harganya menurut saya masih sangat terjangkau asal jangan beli yang merk top. Atau kalau mau gratis tinggal cari di play store juga banyak tuh yang gratisan.

Soundcorset, salah satu aplikasi metronome untuk Android
Soundcorset, salah satu aplikasi metronome untuk Android

Untuk melatih stamina dan konsistensi misalnya, kita lari saja dalam base pace kita dengan dipandu oleh metronome, set ketukannya sesuai cadence kita. Misalnya deh, base pace kita adalah 6 menit dengan cadence 160 spm, kita lari dengan metronome diset di 160 bpm (beat per minute). Usahakan kaki kita mendarat sesuai ketukan metronome, pertahankan itu.

Kalau kita mau larinya lebih lambat seperti untuk recovery atau memang lagi nggak mood misalnya, turunkan saja metronomenya sedikit, bisa 155 misalnya, atau 150 bpm.

Kalau kita ingin melatih agar base pace kita lebih cepat kita naikan metronomenya. Ini harus dilakukan bertahap sedikit-sedikit ya, karena badannya perlu waktu buat adaptasi. Kita naikan 2 beat saja dulu ke 162, atau kalau memang sanggup sih bisa 5 beat ke 165. Nanti coba cek berapa pace-nya kalau kita lari dengan cadence segitu.

Jangan langsung naik terlalu jauh seperti 10 beat misalnya, itu kaget nanti. Pengalaman saya 5 beat itu sudah lumayan signifikan rasanya lho, langsung keteteran. Kalau kita naiknya per 2 beat itu karena cuma sedikit jadi nggak terasa bedanya, tapi kalau diukur pace-nya kelihatan sebetulnya naik sedikit.

Kalau sudah terbiasa dengan cadence yang baru bolehlah kita naikan sedikit lagi, lakukan begitu terus sampai kita bisa nyaman di target pace kita. Biasanya pelari yang punya target pace sih tipe pelari yang sukanya ngejar-ngejar PB, hehehe.

Gampang kan ya, selamat berlatih! Terima kasih sudah mampir, nantikan tulisan saya berikutnya, stay tuned!

Salam sejahtera.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL






Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *