LARI ITU RIBET!

Spread the love

Saya kasih tahu satu hal ya: jangan lari deh! Karena lari itu ribet, asli!

“Wow, masa iya sih lari itu ribet? Cuma gitu doang padahal ya?” Pasti pada mikirnya begitu. Kayanya dalam hati bersorak nih, “asyiiiik nggak usah lari….”.

Dulu saya nggak tahu

Dulu awal-awal saya mulai lari saya juga nggak pernah tahu hal ini, nggak mikirin juga, lari mah lari aja tinggal gerakin kaki doang. Paling saya pikir yang sulit itu cuma masalah stamina dan kaki pegal saja karena saya basically nggak suka dan nggak pernah olahraga, solusinya juga sepertinya gampang menurut saya: sering-sering saja larinya.

lari lagi kalau lari terasa sulit
Run more…

Itu betul lho solusinya, cuma belum lengkap.


Race pertama saya 10K di Borobudur Marathon 2017, disitu saya asli merasa benar-benar keteteran baik dari segi kecepatan maupun stamina. Padahal saya merasanya lari sudah lumayan sering dan lumayan jauh (mungkin karena baru lumayan kali ya, belum cukup, hehehe). Tapi dari situ juga saya jadi suka race dan terobsesi sekali sama yang namanya PB (personal best).

Mulailah saya browsing sana sini, banyak baca dan nonton video, tujuan saya adalah mencari cara untuk meningkatkan kecepatan dan stamina supaya PB saya bisa jauh lebih baik lagi. Nah disitu mulai sadar deh, ternyata lari nggak segampang itu juga ya, lari itu ribet euy! Ternyata ada ilmunya juga, ada tekniknya, ada macam-macam latihannya, ada strategi race juga, dan macam-macam lagi lah.

Ternyata, ribet!

Memang sepintas kelihatannya untuk mencapai PB yang kita cita-citakan kuncinya adalah kecepatan dan stamina. Tapi ternyata untuk mencapai itu jalannya ribet, nggak cukup dengan kita sering lari saja. Tapi cara larinya itu harus bagaimana supaya efektif, kemudian intensitas larinya juga harus seperti apa, berapa lama atau berapa jauh, dan sebagainya. Efeknya ke badan kita ternyata bisa beda lho.

Teknik yang benar itu penting

Pertama tekniknya harus benar. Ini penting banget, karena kalau kita lari dengan teknik yang keliru jadinya gerakan kita kurang efektif dan efisien, banyak buang tenaga. Tambahan juga malah berisiko cedera, terutama daerah kaki. Karena ternyata waktu kita lari itu beban berat tubuh kita yang harus ditanggung oleh kaki itu meningkat bisa hingga tiga kali lipatnya, itu bisa berbahaya.

Kenapa kok kita malah harus ribet belajar lagi teknik lari yang benar padahal lari itu sesuatu yang seharusnya alamiah saja. Coba lihat anak kecil itu pada jago lari lho, tanpa beban tanpa banyak mikir larinya. Itu mereka secara alami saja nggak banyak teori ini itu, tinggal mengikuti naluri yang sudah ada. Tapi kenapa buat kita kok sulit?

Faktor kebiasaan

Ini karena masalah pola kebiasaan kita. Lari itu nggak jadi budaya dan kebiasaan kita. Jangankan lari deh, wong jalan juga kita mah seringnya malas. Lebih parah lagi jangankan jalan jauh, jarak dekat saja harus pakai kendaraan, masih bagus kalau pakainya sepeda, ini pakainya motor atau mobil. Nggak pakai itu pakai angkot, ojek, atau becak.

Jadi sesuatu yang sebenarnya sudah tertanam secara alami akhirnya hilang juga lama kelamaan karena nggak dipakai. Terpaksalah harus kita program ulang badannya dan dilatih lagi.

Bandingkan dengan orang-orang yang masih hidup dengan cara tradisional, orang Kenya atau Ethiopia di Afrika lah misalnya. Sudah deh angkat tangan kita kalau urusan lari sih. Lalu juga ada satu suku namanya Tarahumara di Mexico, lalu di Yunani juga tepatnya di pegunungan pulau Kreta ada juga suku asli yang merupakan pelari jarak jauh yang tangguh.

Mereka bisa begitu karena lari sudah jadi budaya dan bagian hidup mereka sehari-hari secara turun temurun. Mau cari makan saja mereka harus lari jauh, kejar-kejaran dengan binatang buruan atau kabur dari kejaran macan lapar. Dan karena sampai sekarang pun akses teknologi masih terbatas dan kendaraan juga jarang yang punya maka budaya lari ini masih bertahan. Mereka pergi ke tempat kerja atau sekolah itu lari, bahkan saya pernah dengar yang kantornya di gedung bertingkat pun nggak pakai lift. Mereka lari naik turun tangga, kalau kita disuruh jalan saja naik tangga beberapa lantai jantungnya copot 😀

Teknik lari

Teknik lari mencakup banyak hal, saya nggak akan bahas detailnya disini nanti deh mudah-mudahan bisa di tulisan lain. Ini sih sedikit saja sekedar memperkenalkan.

Dari awal sebelum lari saja postur tubuh harus benar, lurus kepala sampai kaki, dan harus rileks. Waktu lari postur ini terus dipertahankan, dan ternyata bukan cuma kaki yang diperhatikan. Semua dari kepala sampai kaki diperhatikan karena mereka semua ikut berperan. Kepala, dada, punggung, tangan, pinggul, semuanya. Melangkah dan mendaratkan kaki juga ada lagi tekniknya. Lari di medan yang berbeda tekniknya juga berbeda, bahkan sampai bernapas pun ada tekniknya.

Pokoknya intinya adalah bagaimana gerakan kita dibuat serileks, seefektif dan seefisien mungkin. Ini butuh waktu dan latihan karena itu seperti kita memprogram ulang otak dan tubuh kita dengan memasukan sesuatu yang baru.

Jenis latihan lari

Lalu kalau bicara latihan lari ternyata latihannya lebih dari sekedar lari dipercepat dan diperjauh. Latihannya berbeda-beda jenisnya dan masing-masing fungsinya spesifik untuk meningkatkan satu aspek tertentu. Detailnya lain waktu deh ya.

Ada latihan teknik, ada latihan untuk meningkatkan stamina, ada untuk kecepatan, kekuatan otot, kelenturan, meningkatkan kapasitas jantung dan paru-paru, buanyak deh. Malah ada juga latihan untuk recovery atau pemulihan dan relaksasi. Belum lagi ditambah latihan-latihan yang lebih spesifik untuk jenis race tertentu.

Dan porsinya juga diatur, berapa kali satu jenis latihan harus dilakukan dalam seminggu dan berapa lama waktunya, juga bagaimana mengkombinasikan menu latihan yang berbeda-beda, dan sebagainya. Dari situ munculah yang namanya “training plan” yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Seperti itulah lumayan kan ribet? Saya juga jujur saja masih bingung sampai hari ini 😀

Masih mau lari?

Pertanyaannya sekarang, dengan segala keribetan ini apakah kita masih mau lari? Butuh komitmen waktu dan usaha lho, hehehe.

Saya bukan menakut-nakuti atau mematikan semangatmu lho ya, saya cuma kasih tahu apa adanya bahwa ternyata lari itu ribet. So you know what you’re getting yourself into.

Tapi itu tergantung sejauh mana kita mau menekuni lari, ini sisi bagusnya. Kita bisa saja jalani yang simpel, atau jalani yang ribet.

pilih jalan ribet atau jalan simpel
Mau ribet atau simpel, tinggal pilih…

Apabila kita lari hanya sekedar hobi dan rekreasi, nggak perlulah ribet-ribet, lari ya lari aja. Walaupun saya tetap menyarankan teknik dasar sih sebaiknya dipelajari, takutnya mau senang malah cedera lagi.

Saran ini berlaku juga untuk orang yang benar-benar pemula ya, yang baru mulai atau malah baru mau mulai lari. Karena kalau kita mikirnya sudah ribet itu kemungkinan besar kita nggak bakalan jadi larinya.

Apabila kita lari untuk menjaga kondisi badan tetap fit, ini juga nggak ribet. Saran saya teknik dasar tetap sebaiknya dipelajari. Lalu fokuslah di latihan atau sesi lari yang sifatnya aerobic. Gampangnya sih ini lari atau jogging santai yang kita nggak perlu nge-push, waktunya juga nggak perlu terlalu lama, ya 30-60 menit lah. Buat ini jadi acara rutin minimal seminggu dua kali deh.

Apabila kita maniak race dan PB, maka terpaksalah segala macam keribetan tadi harus kita jalani. Selamat deh, good luck!

Jadi, sudah memutuskan mau jalan yang mana? Hehehe.

Oke deh, thank you sudah membaca, semoga bermanfaat dan nantikan tulisan saya selanjutnya.

Salam sejahtera.

FOREVER YOUNG WITH RUNNING AND ROCK N’ ROLL


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *